Penyembahan Yang Sejati

Apakah penyembahan yang sejati itu? Dunia hari ini tampaknya telah membuat industri dari sebuah penyembahan.

Sikap Untuk Menjadi Penyembah yang Benar

Banyak orang bertanya: “Apa yang dibutuhkan untuk menjadi seorang Penyembah Yang Benar?”

Menciptakan Sebuah Atmosfer Penyembahan

Hillsong adalah sebuah gereja yang menyembah. Untuk suatu hal yang tanpa diketahui alasannya

Mengapa Kita Bernyanyi Bagi Tuhan ?

Kita menikmati bernyanyi. Bernyanyi adalah hal yang menyenangkan. Musik memainkan peran yang besar dalam hidup kita

Menantikan Atmosfer Hadirat Tuhan

Ketika sebuah penyembahan dinaikkan, atmosfer hadirat Tuhan adalah hal yang paling utama,

Showing posts with label ARTIKEL. Show all posts
Showing posts with label ARTIKEL. Show all posts

Tuesday, June 2, 2015

Hati Yang Melayani

Matius 20:26-28
“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu hendaklah dia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu hendaklah dia menjadi hambamu. Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang”
1. Melayani itu adalah Privilege.
Barangsiapa ingin menjadi besar…, kalimat ini memberi indikasi Tuhan tidak pernah melarang kita memiliki ambisi untuk menjadi besar, memiliki keinginan menjadi orang yang "besar" di dalam pelayanan Tuhan. But if you want to be great, jadilah hamba dengan contoh melayani.
Melayani Tuhan itu berarti sesuatu hak khusus yang Tuhan beri kepada setiap kita. Kenapa? Sebab Kristus di sini menaruh prinsip pelayan, murid-murid menjadi hamba bukan sebagai sesuatu yang Dia paksa inginkan tetapi Dia sendiri telah memberi contoh.
Waktu Dia menebus hidup kita, Dia memberikan semua keagungan, kebesaran, dan kemulianNya buat kita.Tidak ada orang yang menjadi besar tanpa dia memberikan contoh terlebih dahulu menjadi pelayan di dalam melayani. Itulah sebabnya ‘to serve is a privilege.’
2. Melayani itu Anugerah.
Dalam kitab 2 Korintus 4:1 bagi saya ini adalah salah satu prinsip pelayanan yang penting dari rasul Paulus yang mengatakan, “This is by grace of God, this is by His kindness to me…" Saya bisa ambil bagian di dalam pelayanan karena ini adalah anugerah kebaikan dari Tuhan, saya terima dengan hati bersyukur.
Dalam Bahasa Indonesia nya, "Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati"
Bukan saja kita harus setia dalam melayani Tuhan, tetapi Tuhan juga mau kita untuk berani.
Dalam kitab Bilangan pasal 13, "Aku akan memberikan tanah perjanjian itu kepadamu tetapi engkau harus maju berperang untuk mendapatkannya." Tanah perjanjian yang diberi Tuhan itu adalah anugerah. Kalau Tuhan tidak memberikannya, kita tidak bisa mendapatkannya. Tetapi bisakah itu datang kepada kita seperti satu hadiah jatuh dari langit?
Kita tidak boleh abaikan prinsip ini: bahwa segala sesuatu yang datang ke dalam hidup kita itu datangnya sebagai berkat dan anugerah dari Tuhan.
Setiap kali anugerah itu datang, dia selalu datang bersamaan dengan respons yang berani.

  • Menerima pelayanan Tuhan itu sebagai kepercayaan, jangan terima dengan pasrah.
  • Menerima pelayanan Tuhan sebagai anugerah dan berkat Tuhan, jangan terima secara terpaksa.
  • Menerima pelayanan Tuhan sebagai anugerah Tuhan, jangan terima dengan malas.
  • Menerima pelayanan sebagai berkat  Tuhan yang datang ke dalam hidupmu jangan terima sebagai sesuatu yang begitu saja datang.
Kalau anugerah Tuhan datang kepadamu, jangan terima dengan pasif dan pasrah. Tuhan tuntut respons dan reaksi dari sisi kita. Karena kemurahan Allah saya terima pelayanan ini dan saya terima dengan spirit berani.
3. Melayani itu harus tuntas, jangan setengah-setengah!!
Galatia 6:9
“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya kita akan menuai jika kita tidak menjadi lemah.”
To serve until goal’s happening di dalam hidup kita. Memulai sesuatu itu gampang, tetapi konsisten berada di dalam perjalanan itu bukan hal yang gampang. Hati kita gampang jatuh bangun, kemudian kecewa, pudar, tawar, hal itu lumrah di dalam hidup kita. Tetapi di tengah-tengah seperti itu kita tidak boleh mengabaikan hal ini.
Tetapi setiap kita melayani Tuhan, tidak boleh tidak harus berani jalan terus & maju.
Mazmur 126:5-6,
“Orang yang menabur benih sambil mencucurkan air mata pasti pulang dengan sorak sorai membawa berkas-berkasnya.”
Berjalan maju dengan air mata tetap tabur benih, pasti pulang membawa berkas-berkasnya. Banyak orang mau tabur benih, mau lekas-lekas dapat berkas-berkasnya tetapi tidak mau dua hal ini: berjalan maju (menabur benih) dan dengan air mata.
Setiap kita melayani, kita punya goal. Kita harap ingin terus maju. Pelayanan tetap harus berjalan. Kalaupun belum tercapai tetap hati kita harus selalu ada goal.
4. Melayani itu jangan pernah melihat ke belakang.
Kitab Filipi 3:13 “Aku mengejar apa yang di depan…” Prinsip pelayanan yang penting, kita tidak boleh berhenti untuk hanya kagum atas apa yang kita capai di masa-masa yang lampau. Kita harus terus berjalan, kita sadar pekerjaan Tuhan masih belum selesai, masih belum lengkap, masih banyak yang bisa kita kerjakan. Tidak bisa kesuksesan masa lalu itu menjadi penghalang di dalam pelayanan setiap kita. Melayani dengan tidak melihat apa yang kita sudah kerjakan itu  sempurna. Tidak juga merasa apa yang sudah kita capai menjadi sesuatu kebanggaan dan kesuksesan kita.
5. Melayani itu harus dengan menikmati kepuasan tersendiri di dalamnya.
Kisah Para Rasul 20:35 kalimat Tuhan Yesus, “Adalah lebih berbahagia orang yang memberi daripada menerima.”
2 Korintus 8:1-15, Paulus bicara mengenai pelayanan jemaat di Makedonia. Ini menjadi prinsip pelayanan mereka: ‘find a kind of satisfaction in serving others than to be served.’
Bukan soal melayani atau tidak melayani, tetapi pada waktu kita melayani temukanlah satu kepuasan di dalamnya. Itu akan membuat pelayanan kita lebih stabil, lebih konsisten seumur hidup kita.
Ada kerelaan hati, ada sukacita, ada cinta yang muncul sehingga waktu kita mengerjakannya kita bisa menikmati keindahan di dalamnya.
Pelayanan itu ditopang dengan hati yang generous.
6. Melayani dengan Murah Hati.
Lukas 6:36
“Hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapamu adalah murah hati.”
Memberikan hospitality. Konsep ini penting sekali karena ini salah satu yang Tuhan mau ada di dalam hati kita,  sebab ada tertulis dalam
Ibrani 13:2
“Janganlah kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang yang tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.”
Orang lain berbeda dengan saudara sendiri. Orang lain berbeda dengan jemaat sendiri. Orang lain berbeda dengan anggota gereja sendiri.
Kita gampang melayani ‘sesama’ tetapi sulit buat ‘others.’
Sesama berarti kadang-kadang mungkin dituntut adanya "hukum timbal balik", tapi kalau others berarti kita memberi dan jangan berharap mendapat balasan karena mungkin dia hanya orang asing yang numpang lewat saja. Dalam hal inilah menurut saya, konsep hospitality ini muncul.
Kalau kita sebagai anak-anak Tuhan hanya berbuat baik kepada orang yang baik kepada kita, melayani kepada orang yang sudah melayanimu, memberi kepada orang yang sudah memberi kepadamu, itu tidak berbeda jauh dengan orang yang tidak percaya Tuhan.
Mulai jadikan hari-hari kita memberi untuk orang lain dan hari-hari yang lain menjadi hari milikmu. Jadikan ada hari di dalam hidupmu, waktu di dalam hidupmu, bagian di dalam hidupmu bagi orang lain. Artinya, itu memang keluar dari hidup kita dengan tidak menuntut balas kembali.
Kalau kita datang ke gereja dengan pikiran, ‘apa yang bisa saya dapat, apa yang bisa kita dapat?’ kita akan kehilangan aspek hospitality ini.
Biar masing-masing dari kita semakin mempunyai "Hati yang Melayani."
(Steve Tabalujan)
Sumber: Artikel pribadi penulis
Artikel disunting oleh Tim Penyembah.Com

Wednesday, April 15, 2015

10 Tips dalam Memimpin Pujian dan Penyembahan

Berikut ini adalah 10 tips teratas yang perlu diketahui bagi seseorang yang melayani sebagai pemimpin pujian dan penyembahan.

1. Jangan Terlambat 
Menurut pendapat saya, tidak ada alasan sesederhana apapun untuk keterlambatan yang fatal. Keterlambatan terjadi sesekali untuk kita semua, namun keterlambatan fatal adalah tanda bahwa ada sesuatuyang keluar dari yang seharusnya dalam hidup seseorang – entah itu kebanggaan, organisasi, prioritas, komitmen berlebihan. Apapun alasannya, hal demikian tidak menghormati Allah untuk orang lain secara teratur. Jika Anda berjuang dengan ini, buatlah ini menjadi prioritas utama untuk dihadapi.
2. Memimpin secara Individu
Tidak ada aturan yang mencakup semuanya yang berhubungan orang-orang. Cara Anda berurusan dengan satu penyanyi dalam tim Anda mungkin tidak cocok untuk penyanyi yang lain. Kenali anggota tim Anda secara individual - apa yang membuat mereka tergerak, apa yang mereka sukai, dinamika keluarga dan pekerjaan yang membawa ke sebuah persamaan. Berikan waktu ekstra dan kasih karunia bagi mereka yang membutuhkannya. Harapan dan metode Anda harus cukup fleksibel untuk memungkinkan berbagai jenis kepribadian untuk hidup berdampingan dalam pelayanan Anda.
3. Adalah Lebih Baik untuk Menghentikan Nyanyian
Suara gitar yang benar-benar fals? Berhentilah. Apakah pemain drum Anda memulai bermain di 3/4 bukannya 4/4? Berhentilah. Apakah para penyanyi menyanyikan lagu berbeda dari lagu yang band mainkan? Berhentilah. Terlalu sering, mentalitas pertunjukkan kita mendikte bahwa kita seharusnya berpura-pura bahwa tidak ada yang salah sehingga penonton tidak akan melihat. Mereka memperhatikan. Hanya berhentilah dan perbaikilah.
4. Berikan Wewenang untuk Berkreasi
Apakah Anda satu-satunya orang dalam tim Anda membuat keputusan tentang kreatifitas? Anda keliru. Mulai berikan kesempatan bagi anggota tim Anda masukan dan wewenang tentang kreatifitas. Mereka memiliki tanggung jawab untuk bekerja dalam standard yang Anda tetapkan, tetapi pada akhirnya, mereka akan bersinar ketika diberikan kepemilikan atas beberapa ekspresi yang kreatif. Gembala saya, Rick Warren, menulis, "Ketika Anda memberikan wewenang dengan tanggung jawab, Anda akan kagum pada kreatifitas orang-orang Anda."
5. Jangan Biarkan Trend mendikte Tujuan
Hanya karena lagu penyembahan yang terbaru dan terhebat adalah musik rock bukan berarti jemaat Anda tidak bisa lagi menyembah Tuhan dengan himne favorit mereka. Kondisi ekonomi manusia membuat kita percaya Tuhan sangat peduli dengan trend - Dia tidaklah demikian. Dia sudah mendengar mode terbaru jauh sebelum mode itu keluar. Dan selain itu, mode didasarkan pada generalisasi yang seringkali mudah dibantah. Misalnya, pujian dan penyembahan modern, yang bisa dibilang paling banyak dipengaruhi oleh musik U2, cenderung dipasarkan ke arah massa berusia 18-30. Tapi U2 muncul di awal 80-an, yang berarti musik mereka sama relevan dengan orang-orang di usia 40-an dan 50-an. Usia, gaya, tempo, volume, instrument - itu semua ada untuk diraih. Jangan mudah dipengaruhi oleh trend. 
6. Mengidentifikasi Anggota Tim yang Kreatif atau yang Terstruktur
Orang-orang kreatif cenderung adalah seorang administrator buruk, dan administrator tidak selalu menjadi penulis lagu terbaik. Metode Anda bekerja (baik bagaimana Anda bekerja dan apa yang Anda harapkan dari anggota tim Anda) perlu didasarkan pada kekuatan dan kelemahan. Jika Anda orang yang kreatif, dapatkanlah bantuan administrasi, daripada membiarkan tim Anda menderita di bawah kemampuan organisasi Anda yang buruk.
7. Untuk Memberi Makan atau Diberi Makan
Jika Anda berada dalam pelayanan, selalu ingat bahwa Anda memiliki tanggung jawab untuk melayani orang lain. Minggu pagi seringkali kacau dan penuh tugas, detail, konflik, dll. Kita bisa pulang dengan kering secara rohani dan merasa sepertiya kita tidak "mendapatkan apa-apa dari gereja." Tapi saat-saat ketika Anda melayani tidak selalu waktu terbaik bagi Anda untuk juga dilayani. Saya cenderung untuk beroperasi di bawah gagasan bahwa pada hari Minggu pagi, saya di sana untuk melayani orang lain, bukan untuk dilayani.
8. Ibadah Tim Harus Fokus
Waktu ibadah, adalah waktu berharga untuk membangun tim, namun dapat disalahgunakan. Waktu ibadah tim harus terkait dengan tugas yang ada (ibadah, musik, persekutuan) atau berhubungan dengan seri pengajaran gembala. Mereka tidak seharusnya digunakan sebagai kesempatan pribadi Anda untuk berkhotbah atau pamer hikmat alkitabiah Anda. Ingat, banyak anggota gereja mendengar pesan pada hari Minggu pagi, satu atau dua pesan yang berbeda di radio selama seminggu, sebuah studi Alkitab dalam kelompok kecil mereka, sebuah studi yang berbeda dalam waktu pribadi mereka, dan kemudian ibadah mingguan Anda. Bagaimana mereka diharapkan bisa menerima semua pesan-pesan yang berbeda ini? Mereka tidak bisa. Jadi gunakan waktu ini dengan baik.
9. Jangan Teralihkan
(A) Waktu latihan adalah untuk berlatih. Ketika orang menyerahkan malam pekan mereka untuk datang berlatih, adalah penting bahwa Anda tidak memonopoli waktu mereka dengan bercerita tentang anak-anak Anda. Dan Anda harus selalu berusaha untuk menjadi orang yang paling siap di ruangan. Ada perbedaan besar antara berlatih (melakukan persiapan untuk pertunjukkan) dan sekedar berlatih  dalam sehari-hari. Praktek di rumah, kemudian latihanlah dengan apa yang Anda sudah praktekkan bersama dengan tim. (B) Waktu bersekutu adalah tentang persekutuan. Menggunakan waktu bersosialisasi unruk membahas “pekerjaan” dapat menggangu. Gunakan waktu ini hanya untuk bergaul dan mengetahui tentang orang-orang Anda. Bersenang-senanglah - ini bukan pertemuan. (C) Waktu penyembahan adalah untuk penyembahan. Setelah pelayanan dimulai, mungkin hal-hal tersebut akan menjadi keliru. Pada titik ini, Anda percaya bahwa hal ini ada di tangan Tuhan atau tidak. Anda tetap fokus pada Tuhan. Jika Anda fokus pada masalah, demikian juga dengan jemaat Anda.
10. Tetap Terhubung dengan Tuhan
Ini terdengar mudah daripada seharusnya untuk orang-orang dalam pelayanan. Saya terus berjuang dengan mendapatkan begitu sibuk melakukan "pekerjaan Tuhan" sehingga saya lupa untuk bersekutu dengan Tuhan dalam kehidupan saya sendiri. Waktu saat teduh setiap hari bersama dengan Tuhan adalah hal yang paling berharga yang dapat kita lakukan, dan seberapa sering kita hanya melihat ini keluar dari ramainya jadwal kita? Jika Anda mendapatkan satu hal dari daftar ini, saya harap itu adalah salah satunya adalah ini. Bagi saya, juga.
Tony Guerrero menjabat sebagai Direktur Musik dan Direktur Seni Rupa Kreatif di Saddleback Church di Lake Forest, CA, dan karyanya sebagai peniup terompet fluggel jazz kontemporer, trompet, komposer, dan produser telah membawa dia kepada baik keberhasilan dan penonton di seluruh dunia secara luar biasa. Baru-baru ini, ia telah membuat dirinya sebagai produser dalam bidang Pop dan Pujian Penyembahan Kristiani. Dia telah berbicara dan membawakan acara pada konferensi ibadah di AS, Amerika Selatan, dan Eropa Timur. Artikel bulannnya "Musician's Corner" untuk Majalah Pemimpin Pujian dan Penyembahan juga telah diterima dengan baik, dan dia baru-baru ini menerbitkan sebuah buku berjudul “Attracting Quality Musicians”, ditujukan untuk menarik musisi berkualitas dalam pelayanan.

Sumber: www.ChurchLeaders.com

Artikel diterjemahkan dan disunting oleh Tim Penyembah.Com

Friday, April 10, 2015

10 Peranan Musik dalam Sebuah Ibadah

Salah satu kekeliruan yang yang sering terjadi dalam sebuah ibadah pujian dan penyembahan adalah kecenderungan orang-orang untuk menggunakan istilah “ibadah” sebagai sinonim untuk aspek musikal dari sebuah ibadah pujian dan penyembahan. Pada kenyataannya, musik sebenarnya mempunyai banyak peran dalam sebuah ibadah,

di luar dari doa-doa yang dinyanyikan. Berikut adalah 10 peranan musik dalam sebuah ibadah pujian dan penyembahan.

1. Melibatkan
Ibadah pujian dan penyembahan modern seringkali lebih seperti sebuah pertunjukkan daripada sebuah pengalaman yang interaktif. Jemaat seringkali hanya duduk di kursi dan didorong untuk melihat sebuah pertunjukkan. Musik menawarkan setiap orang yang hadir untuk terlibat: bernyanyi, bertepuk tangan, dan bahkan bergerak mengikuti irama lagu.
2. Emosi
Musik memberikan orang-orang kesempatan untuk mengekspresikan apa yang tidak dapat diekspresikan dengan kata-kata. Dalam kehidupan sehari-hari, keluhan atau tawa dapat berarti lebih dari sekedar kata-kata yang dapat menggambarkan perasaaan yang ada di hati dan pikiran kita. Musik menyentuh emosi kita sedemikian rupa sehingga kita benar-benar dapat merasakan komunikasi kita dengan Allah.
3. Pencair Suasana
Bagi pengunjung yang ingin merasa tidak seperti seorang pengunjung, yang mereka perlukan adalah mendengar sesuatu yang membuat mereka merasa berada di rumah. Hal ini dapat berupa sebuah himne yang familier bagi mereka atau lagu Kristen yang mereka kenal dari radio, tetapi apapun itu, dinding kekakuan akan mulai runtuh saat seseorang mengenali ada hal yang berbeda dalam sebuah pengaturan yang ada.
4. Mempersatukan Doa
Beberapa gereja berdoa Doa Bapa Kami bersama sebelum memulai ibadah, tetapi ada juga beberapa yang tidak. Ketika jemaat menyanyikan lirik sebuah lagu, mereka juga mendoakan doa dengan kata-kata yang sama bersamaan. Kesatuan doa dalam sebuah jemaat adalah hal yang sangat berkuasa.
5. Memperkaya
Kita pergi ke sebuah museum karena digerakkan oleh karya seni. Kita datang ke konser musik untuk memiliki pengalaman hidup yang diperkaya. Musik dalam sebuah ibadah pujian dan penyembahan memberikan kesempatan yang lebih dalam, lebih luas, dan lebih utuh untuk benar-benar mengalami sebuah kehidupan dan menjadi manusia sepenuhnya.
6. Sinyal atau Tanda
Musik menginformasikan kepada kita ketika ibadah hendak dimulai, ketika kotbah hendak selesai, suasana hati seperti apa yang seharusnya kita rasakan. Hal ini juga sebagai sesuatu yang menandai kelender kita: musim dingin tidak akan menjadi musim dingin tanpa hadirnya lagu-lagu natal, sebuah pernikahan takkan tereasa lengkap tanpa iringan lagu “Canon in D” oleh Pachelbel, dan sebuah pemakaman tidak akan terasa cukup tanpa diiringi lagu “Amazing Grace”.
7. Kesukaan atau Kenikmatan
Sebuah ibadah yang hanya dipenuhi oleh kotbah-kotbah dan pembicaraan akan terasa sedikit kering. Musik membantu kita menikmati waktu kita sebagaimana kita menyembah Tuhan.
8. Pengisi Kekosongan
Sedikit keheningan bukanlah sesuatu yang buruk, tetapi musik dapat menggabungkan diri ke beberapa saat keheningan tersebut dengan keindahan dan inspirasi.
9. Pemicu sebuah Keintiman
Orang-orang sering terkejut pada saat-saat keindahan dan terinspirasi untuk menyembah Tuhan. Namun, mereka tampaknya terhubung dengan Tuhan dalam kondisi yang sudah diatur sebelumnya – meletakkan diri mereka dalam sebuah posisi dan keadaan sekitar yang kondusif untuk sebuah keintiman dengan Bapa. Musik adalah sebuah pemicu emosional dan rasional untuk orang-orang berhenti dan secara sadar memutuskan untuk mengambil waktu untuk lebih dalam lagi bersekutu dengan Tuhan.
10. Ekspresi Seni
Seiring dengan bernyanyi, orang-orang dalam jemaat Anda mempunyai kesempatan untuk mengekspresikan mereka secara seni dengan musik. Beberapa akan mengambil bagian dalam tim pujian, beberapa akan bermain dengan lonceng, beberapa bergabung dengan grup akapela, dan beberapa menggunakan musik untuk menilai pengumuman video yang mereka gabungkan bersama di Macbook mereka. Musik membiarkan orang-orang  meciptakan sebuah seni penyembahan yang mengundang lainnnya untuk bergabung dalam puji-pujian kepada Bapa.

Artikel diterjemahkan dan disunting oleh Tim Penyembah.Com

Penyembahan yang Sejati

Apakah penyembahan yang sejati itu? Dunia hari ini tampaknya telah membuat industri dari sebuah penyembahan. Kita mempunyai CD “penyembahan” dan artis “penyembahan”. Gereja bahkan mempekerjakan pastor di bidang “penyembahan” untuk memimpin jemaat dalam menyanyikan lagu-lagu “penyembahan”.

Tetapi, apakah sesungguhnya penyembahan itu dan bagaimana Alkitab mendefinisikan penyembahan?
Untuk memahami apakah itu penyembahan, kita perlu mengerti perbedaan antara “penyembahan” dan “puji-pujian”. Setiap kali kita berbicara mengenai musik di gereja, secara otomatis kita mengkategorikannya sebagai “pujian dan penyembahan”. Tetapi, jika kita melihat apa yang Alkitab katakan mengenai penyembahan, hal ini tidak ada hubungannya dengan musik, gaya, denominasi gereja, ataupun hal lainnya.
Ketika kita melihat kata “puji-pujian” di Alkitab, hal ini selalu diartikan sebagai suatu bentuk ekspresi: mengangkat tangan, berteriak, menari, berlutut, menyanyi, memainkan alat musik, dan lain-lain. Puji-pujian selalu dalam bentuk yang nyata, dapat dilihat atau didengar. Penyembahan, di sisi lain, selalu mengacu pada bentuk pengorbanan atau kerendahan hati.

Dalam Kejadian 22, Allah berfirman kepada Abraham untuk pergi mengorbankan anaknya, Ishak, dan Abraham memperhitungkan hal ini sebagai penyembahan kepada Allah. Mazmur 95 berkata, “Masuklah, marilah kita sujud menyembah.” Roma 12:1 mengatakan kepada kita untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, dan hal itu dipertimbangkan sebagai suatu tindakan spiritual dari penyembahan. Dalam kitab Wahyu, kita melihat kedua puluh empat tua-tua terungkur dan menyembah kepada Bapa. Definisi penyembahan, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, adalah untuk bersujud atau merendahkan diri. Penyembahan adalah kerendahan hati.
Lalu, mari kita melihat apa yang Yesus katakan dalam Yohanes 4:24. “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” Yesus berkata, agar kita dapat menyembah Allah, kita harus datang kepadaNya di dalam roh, sama seperti Dia yang adalah Roh. Dalam kisah Perjanjian Lama, tidak ada jalan bagi manusia untuk datang mendekat kepada Allah. Manusia benar-benar terpisahkan dari Allah karena dosa. Tetapi, karena karya keselamatan Yesus Kristus yang telah selesai di atas kayu salib, Ibrani 4 berkata bahwa kita sekarang mempunyai hubungan langsung kepada Bapa, tetapi kita harus terlebih dahulu melalui karya penebusan Yesus Kristus. Hanya sesudahnyalah kita akan mempunyai Roh sehingga kita dapat bersekutu dengan Allah.
Kita juga mengerti bahwa Yesus berkata, “Akulah jalan, dan kebenaran, dan hidup.”. Allah adalah Roh dan Yesus adalah kebenaran. Yohanes 16 juga menyebutkan bahwa Roh Kudus adalah Roh Kebenaran, sehingga sekarang kita dapat berhubungan secara langsung kepada Bapa dan kita harus datang juga menyembah sebagaimana seharusnya.
Yesus berkata bahwa Bapa sedang mencari mereka yang akan dengan sungguh-sungguh menyembah. Kita tidak perlu lagi membawa persembahan atau pengorbanan, karena itu adalah jenis penyembahan seperti yang tertulis dalam Perjanjian Lama. Namun, Paulus dalam Roma 12 berkata, kita sekarang harus mempersembahkan diri kita sebagai persembahan yang hidup. Dengan kata lain, kita harus datang kepada Allah dengan penuh kerendahan hati dan meletakkan keinginan pribadi kita, sehingga Allah dapat melakukan kehendakNya yang sempurna atas kita.

Kerendahan hati berarti meletakkan segala keinginan pribadi kita. Hal ini adalah hal yang paling sulit untuk dilakukan, namun Daud berkata, “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.” (Mazmur 51:17). Kata “hati” diartikan sebagai keinginan. Allah sedang mencari keinginan yang benar-benar patah dan hancur karena Dia tidak dapat melaksanakan kehendakNya ketika ada kehendak kita yang menghalanginya. Bahkan, Yesus berkata, “Bukan kehendakKu, melainkan kehendakMu yang jadi.”

Jadi, karena salib, sekarang kita dapat berhubungan langsung kepada Bapa. Namun, masih ada hal-hal yang diperlukan untuk dapat datang kepada Bapa. Jika seseorang belum menerima pengampunan dan Roh Allah, pemisah tersebut masih ada. Tetapi, saat seseorang datang dan menerima kuasa penebusan Yesus Kristus, dia dapat berhubungan langsung secara total kepada Bapa.
Untuk dapat menyembah kepada Bapa seutuhnya dalam Roh dan Kebenaran seseorang harus belajar mengenai kerendahan hati. Seseorang harus belajar dari Yesus, Sang Penyembah yang Sejati, yang “merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib” (Filipi 2:8).
Russell Henderson adalah penulis lagu dan pemimpin pujian-penyembahan. Dia juga adalah penemu IGNITE Worship Ministries yang berpusat di St. Louis, MO, USA. Dia telah memimpin penyembahan selama 10 tahun di St, Louis, MO dan di Panama City, FL. Dia mempunyai kerinduan untuk melihat orang-orang masuk kepada penyembahan yang sejati dan pengalaman manisfestasi hadirat Allah yang selalu baru. Dia adalah pastor di bidang pujian-penyembahan di St. Peters Assembly of God in St. Peters, MO, USA.
Artikel diterjemahkan dan disunting oleh Tim Penyembah.Com

Memperdulikan Tim Pelayanan Anda

Saya akhir-akhir ini tertantang dalam kepemimpinan saya dengan pemikiran ini: Hal apakah yang paling saya pedulikan ketika memimpin tim pelayanan saya? Apakah tugas pelayanan yang sedang diemban? Posisi pengisi dalam tim? Ketepatan? Persiapan?

Hal-hal tersebut tentu saja penting dalam sebuah kesempurnaan yang perlu kita bawa dalam ibadah kita. Saya tertantang dengan pemikiran manakah yang saya lebih pedulikan – apakah saya lebih mementingkan tugas pelayanan atau apakah saya lebih mementingkan masing-masing individu dalam tim pelayanan saya?
Kita disebut sebagai gembala dan pemimpin untuk peduli dengan orang-orang yang kita pimpin, bukan hanya dengan apa yang kita hasilkan. Berikut ini adalah beberapa tips praktis yang saya temukan dalam memfokuskan untuk peduli dengan orang-orang yang ada di dalam tim saya lebih dahulu:
1. Kepedulian memerlukan waktu.
Waktu adalah komoditas yang sangat berharga. Ambil waktu untuk mengenal setiap anggota tim Anda menunjukkan Anda menghargai mereka, dan bukan hanya kontribusi mereka terhadap tim Anda. Kita perlu untuk melihat hubungan jangka panjang, dan bukan hanya hubungan jangan pendek yang bersifat untuk membenarkan secara sementara.
2. Ada perbedaan antara mengatur orang-orang dan mengembangkan orang-orang.
Mengembangkan dan memuridkan orang-orang memerkukan investasi terhadap diri kita sendiri dan akan menunjukkan buah yang hebat. Hal ini berarti membantu seluruh tim Anda untuk mencapai tujuan mereka dan potensi mereka dalam segala aspek, bukan hanya di area spesifik dimana kita menempatkan mereka; untuk kepentingan mereka dan bukan hanya Anda. Lihatlah potensi mereka yang sesungguhnya dan bekerjalah menuju ke arah hal tersebut, bukan hanya untuk tugas yang diberikan kepada mereka.
3. Pentingnya memperhatikan detil-detil.
Ketehuilah setiap detil dan apa yang sedang tim Anda alami. Mereka lebih dari sekedarmemainkan peran mereka. Lihatlah melebihi tugas yang diberikan dan hasil terhadap kehidupan yang merka hidupi setiap harinya,
4. Fokuskan diri Anda terhadap kesempatan yang dapat Anda berikan, bukan kesempatan yang dapat Anda peroleh.
Inti dari semuanya adalah untuk membentuk sebuah momentum generasi dalam kepemimpinan. Kita perlu memperlengkapi orang-orang untuk melakukan lebih dari apa yang mereka dapat lakukan. Hal ini pertama-tama menunjukkan kita mempercayai mereka untuk memudian memperlebar kapasitas mereka sebagai seorang individu, yang hasilnya tentu saja sebuah pertumbuhan tim secara utuh.
Hal-hal praktis di atas adalah beberapa yangsaya temukan dapat membantu saya memfokuskan kembali pentingnya kepedulian terhadap sebuah tim pelayanan penyembahan. Hal-hal apakah yang Anda temukan dapat membantu Anda untuk peduli terhadap tim pelayanan Anda?
Matt Hann adalah seorang pelatih kreatifitas di Hillsong College. Dia adalag pemain bass sekaligus yang mengepalai tim music penyembahan di Hillong College di Sidney. Dia suka melayani Tuhan dan sesamanya, menggembalakan tim kreatif, dan memaksimalkan potensi orang lain. Ketika sedang tidak bermain bass atau memberikan pelatihan kepada para siswa, Anda akan menemukan Matt di rumah bersama istrinya Ashley, belajar fisika quantum, dam menonton permainan es hoki.
Artikel diterjemahkan dan disunting oleh Tim Penyembah.Com

Wednesday, January 21, 2015

Memimpin Pujian dan Penyembahan dengan Kreatif

Seringkali kita memandang pelayanan dengan kacamata yang salah. Kita ingin langsung memulai dari panggung, berada di spotlight, membuat album, dan sebagainya tanpa mau memulainya dari pelayanan kecil seperti menggulung kabel untuk persiapan ibadah.

Memimpin pujian dan penyembahan adalah sebuah seni, sesuatu yang bisa dipelajari. Memimpin pujian bukanlah sebuah talenta
atau karunia, karena setiap kita dipanggil menjadi seorang penyembah. 

Sebelum membahas lebih jauh, kita perlu tahu dulu apakah pujian dan penyembahan itu sendiri bagi kita. Teknik memimpin pujian sebenarnya mudah, tetapi prinsip dan konsepnya itu yang jauh lebih berharga untuk bisa dipahami. Namun, sayangnya banyak pemimpin pujian saat ini hanya mementingkan teknik (misalnya, kode tangan untuk ke verse, chorus, ending, dan sebagainya). Jika hanya itu yang kita lakukan, pemusik dunia pun melakukan hal yang sama. Yang membuat kita berbeda adalah kita memuji dan menyembah Tuhan. 

Jika boleh jujur dengan diri sendiri, dalam pikiran kita, pujian kita konotasikan sebagai lagu cepat, dan penyembahan sebagai lagu pelan. Namun, tanpa kita sadari juga, kita bisa menyembah Tuhan dengan lagu yang cepat dan memuji Tuhan dengan lagu pelan, atau bahkan tanpa lagu dan musik sekalipun. Seringkali kita terjebak dengan pikiran bahwa memuji dan menyembah Tuhan berhubungan dengan lagu cepat dan lagu pelan. Kita harus bisa mengubah pola pikir kita terhadap konsep pujian dan penyembahan yang sesungguhnya. Sebab jika kita berpikir pujian dan penyembahan hanyalah perkara lagu cepat dan lagu pelan, maka jemaat pun akan memikirkan hal yang sama. 

Seorang pemimpin tidak akan bisa pergi memimpin/membawa orang lain ke tempat yang dia sendiri belum pernah pergi. ~ Sidney Mohede 

Banyak pemimpin pujian berkata bahwa dia akan membawa masuk jemaat masuk ke hadirat Tuhan. Ironisnya dia tidak tahu atau belum pernah merasakan pribadi hadirat Tuhan itu seperti apa, sebab yang dia tahu hanya soal lagu dan teknik. Semakin kita sering memimpin pujian, kita akan sadar bahwa memimpin pujian adalah sebuah seni mengikuti Roh Kudus, seni mengikuti tuntunan Roh Kudus, dan ini tidak akan pernah bisa diajarkan. Hubungan dengan Roh Kudus tidak akan pernah terjadi dalam waktu instan, semuanya perlu waktu dan proses. Saat kita sedang menyembah, memimpin pujian, kita harus membangun komunikasi dengan Roh Kudus dan bertanya apa yang Roh Kudus ingin kita lakukan dalam pujian dan penyembahan ini. 

Apa yang kita lakukan di depan banyak orang saat memimpin pujian dan penyembahan adalah cerminan dari apa yang kita lakukan saat memuji dan menyembah Tuhan sendirian, tanpa ada yang melihat. Banyak di antara pemimpin pujian dan penyembahan yang tergila-gila dengan banyaknya orang yang melihat, sehingga memimpin pujian dan penyembahan di atas mimbar hanya menjadi kedok atau topeng. Banyak dari mereka yang ketika memimpin pujian dan penyembahan hanya memikirkan tentang diri sendiri, berapa banyak persembahan kasih yang bisa didapatkan, dan sebagainya.

 PENYEMBAHAN adalah semua yang kita miliki, kita memberikannya untuk Tuhan. 

Ingat bahwa kekristenan bukan sebuah pelayanan, kekristenan adalah sebuah kehidupan. Yesus sendiri berkata bahwa Dia datang untuk memberi kita hidup dan hidup yang berkelimpahan. Yesus tidak pernah berkata bahwa Dia datang untuk memberi kita pelayanan dan pelayanan.

Kekristenan tidak berbicara tentang apa yang kita lakukan sepanjang pelayanan di hari Minggu, tetapi apa yang kita lakukan setiap hari, apakah kita sudah menjadi teladan, apakah kita menjadi pribadi yang baik dan bertanggung jawab di mana pun kita ditempatkan. Percuma jika pelayanan kita maksimal dan baik, tetapi kita justru menjadi batu sandungan bagi teman-teman kita, jarang berada di rumah, tidak menjadi berkat di tempat kerja, dan sebagainya. 

Teknik memimpin pujian dan penyembahan sangatlah bisa dipelajari, namun konsep dasar pujian dan penyembahan—yaitu mengenai hubungan kita pribadi dengan Tuhan, dengan Roh Kudus—tidak bisa dipelajari. Inti dari pujian dan penyembahan bukanlah tentang kita. Banyak dari kita yang mengukur keberhasilan memimpin pujian-penyembahan dengan seberapa hadirat Tuhan bisa dirasakan jemaat. Dan, saat kita merasa bahwa pujian-penyembahan dalam suatu ibadah itu biasa-biasa, kita menjadi waspada sebab pusat dari ibadah itu bukan lagi Tuhan, tetapi kepada pemimpin pujian penyembahan sendiri. Ada tidaknya hadirat Tuhan akhirnya ditentukan dari kekuatan dan kemampuan tim pujian-penyembahan yang melayani, bukan karena Tuhan. Tidak ada yang bisa kita lakukan tanpa hadirat Tuhan di hidup kita. Apapun teknik yang kita lakukan, tanpa kita mengerti prinsip dasar ini, tidak akan ada gunanya.

Dalam mengerti sebuah teknik memimpin pujian dan penyembahan, kita harus memahami pentingnya keseimbangan antara kemampuan dan urapan Tuhan. Sekedar pandai bernyanyi atau pandai bermusik tidak cukup untuk menjadi pemimpin pujian dan penyembahan. Banyak dari kita yang tidak mau mengejar urapan dari Tuhan, sebab diperlukan harga yang harus dibayar untuk mendapatkan urapan. Untuk mendapatkan urapan diperlukan sebuah hubungan yang harus terus-menerus dibangun bersama Tuhan. Apakah kita sudah cukup berani membayar harga untuk mendapatkan urapan tersebut? 

                                                                       (Sumber : Professional Cell Community (PCC) )

Sunday, November 9, 2014

TIPS: Menjadi Singer Yang Baik

Tugas singer adalah:
1. Memperkuat vocal worship leader sebagai backing vocal
2. Memberikan harmony suara 1,2,3 untuk memperindah vocal
3. Memberikan fill-in nada baru yang memperindah aransemen lagu
4. Membantu jemaat dalam memberi contoh ekspresi dalam pujian penyembahan
5. Membantu Worship Leader : ketika WL spontan berbicara, singer bisa tetap menyanyikan lagu agar jemaat tidak kehilangan arah lagunya.

Memperkuat Vocal Worship Leader Sebagai Backing Vocal

singer jangan berimprovisasi dalam menyanyikan lagu.  Singer harus menyanyikan lagu sesuai nada aslinya dan tiap kalimat harus rapi dalam sebuah kesatuan singers.

Jika worship leader melakukan kesalahan, misalnya waktunya masuk lagu, WL belum masuk lagu, singers saya sarankan untuk tetap masuk agar aransemen tidak kacau karena WL salah. dalam hal ini, saya yakin WL bisa menyadari dan dengan kreatif menyiasati kesalahan, misalnya dengan berbicara atau menyerukan kata-kata semangat.

Memberikan Harmony Suara 1-2-3 Untuk Memperindah Vocal

Beberapa singer memiliki kemampuan relative pitch sangat baik sehingga mampu menyanyikan harmonisasi suara dengan spontan sesuai dengan chord lagu.
Beberapa singer memiliki kemampuan pas-pasan, sehingga harus sangat hati-hati dalam mengambil harmonisasinya secara spontan.  Sebaiknya dilatih terlebih dulu.
Beberapa singer tidak memiliki kemampuan ini, sehingga sebaiknya tetap menggunakan suara 1.  Jika singer ini memiliki kerinduan menyanyikan harmonisasi, harus berlatih sangat rajin terlebih dulu sampai hafal dan tidak terpengaruh suara lainnya.

Memberikan Fill In Nada Baru yang memperindah Aransemen Lagu

Beberapa lagu sudah di aransemen fill-in singer/backing vocalnya sehingga anda bisa mendengarkan dan menirunya.
Jika belum, anda bisa meminta keyboardist untuk menciptakan nada unik yang dapat singer hafalkan dan gunakan untuk mengisi lagu dengan kata-kata misalnya "oea eo..." atau "parampam pam..." atau "na na na naa...."

Membantu jemaat dalam memberi contoh ekspresi dalam pujian penyembahan

Disadari atau tidak.. jemaat sangat memperhatikan anda, para singer! setiap gerak tubuh anda, setiap ekspresi mata anda, setiap pakaian yang anda pakai, setiap senyum, setiap tawa dan setiap air mata anda.  Saat anda mengangkat tangan, jemaat menirukannya.  Saat anda tersenyum, jemaat ikut tersenyum.  Singer sangat mempengaruhi Jemaat dalam memuji dan menyembah Tuhan!

Membantu Worship Leader : ketika WL spontan berbicara, singer bisa tetap menyanyikan lagu agar jemaat tidak kehilangan arah  lagunya.

Worship leader sangat bertanggung jawab menjaga suasana ibadah dan memimpin jemaat memasuki hadiratNya.  Karena itu WL membutuhkan saat-saat dimana WL berbicara, bercerita, berteriak, dan menyerukan Ekspresinya pada Tuhan.
Di saat-saat itulah singer harus mampu tetap menjaga suasana dengan menyanyikan lagunya, sehingga jemaat tidak kehilangan arah.  Agar jemaat tetap tahu lagunya sampai dimana.

Wednesday, October 22, 2014

Pelatihan Bagi Pemimpin Pujian dan Penyembahan

Berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan bagi seorang yang melayani sebagai pemimpin pujian dan penyembahan.

1. Ketika memimpin pujian dan penyembahan, kita harus bisa mengatasi diri kita sendiri dan batas kemampuan kita untuk dapat menyelesaikannya dengan baik. Mudah untuk berpikir Anda tidak layak atau tidak cukup baik dalam kemampuan maupun diri Anda sendiri. Namun, jika Firman Tuhan berkata batu-batu akan berteriak kemudian saya sadar bahwa kita semua pasti bisa memuji dan menyembah Tuhan.

2. Memimpin pujian dan penyembahan lebih mengedepankan kepemimpinan daripada menjadi penyanyi yang sempurna atau pemain gitar hebat, walaupun kita harus berkomitmen untuk meningkatkan kemampuan dan menjadi semakin baik dalam bidang yang kita lakukan karena Tuhan layak mendapatkan yang terbaik. Memimpin pujian dan penyembahan berbicara tentang kemampuan untuk terlibat dan menangkap fokus jemaat dan memimpin mereka kepada Tuhan. Jika Anda ingin berbicara dan menguatkan mereka dalam sebuah pelayanan, sangat penting untuk mengetahui apa tujuan Anda. Ketika Anda berbicara, tujuannya adalah untuk mengumpulkan dan memfokuskan jemaat, melalui penggunaan ayat atau kebenaran dalam firman Tuhan, hal yang mereka setujui dengan Anda akan menyatukan mereka. Setelah mereka telah memiliki kesatuan hati, Anda telah mendapat fokus mereka dan dapat memimpin mereka.
3. Konsistensi akan membangun hubungan dalam jemaat, dan hal ini diperlukan. Pengaruh pada panggung dibangun di luar panggung. Hidup dalam integritas dan karakter, dan tidak memberi celah bagi jemaat untuk meragukan mengapa Anda dipercayakan posisi tersebut. Ingat, jika orang dapat terhubung dengan Anda, mereka akan lebih mudah untuk mempercayai Anda, jika mereka mempercayai Anda, mereka akan mengikuti Anda. Jadi tersenyumlah dan bersikaplah dengan ramah!
4. Jika Anda adalah seorang pemimpin pujian dan penyembahan, senjata utama Anda adalah suara Anda. Latih dan kembangkanlah suara Anda - jadilah pelayan yang baik dalam mengembangkan bakat dan karunia yang telah Tuhan percayakan kepada Anda.
5. Cintai hadirat Tuhan - sering menghabiskan waktu pribadi bersama-Nya sehingga Anda tahu seperti apa suasana hadirat Tuhan dan bagaimana menuju ke sana. Semua hal praktikal dalam pujian dan penyembahan akan sia-sia kecuali Anda mengenal Tuhan yang menjadi tujuan penyembahan Anda.
6. Kasih, belas kasihan, dan keselamatan dari Tuhan adalah untuk semua orang! Ketika kita memimpin pujian dan penyembahan kita tidak hanya memimpin umat yang bersemangat melompat dan bertepuk tangan, tapi kita dipercaya untuk memimpin semua orang masuk dalam hadirat-Nya. Anda tidak tahu apa yang mereka hadapi pada hari-hari atau minggu-minggu sebelum pelayanan Anda. Beberapa butuh dorongan untuk mengalihkan perhatian mereka dari masalah mereka dan mengarah kepada Yesus saja. Kita harus tunjukkan caranya pada semua orang!  (Jad Gillies)
                                                                                                                       (Sumber:www.HillsongCollected.com & www.penyembah.com)